Curriculum
Di era digital dan Society 5.0, literasi tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, melainkan meluas ke tiga ranah utama: literasi sains, literasi teknologi, dan literasi data. Ketiganya menjadi fondasi penting bagi mahasiswa Pendidikan Biologi dalam memahami, mengelola, serta mentransformasikan pengetahuan menjadi solusi edukatif yang relevan secara sosial dan ekologis. Kurikulum 2024 Pendidikan Biologi Unesa secara eksplisit menempatkan penguasaan literasi data dan teknologi sebagai bekal untuk merespons tantangan abad ke-21 dan keberlanjutan sumber daya hayati. Literasi sains mengacu pada kemampuan untuk memahami prinsip-prinsip ilmiah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta menyadari bahwa sains merupakan proses dinamis, bukan sekadar kumpulan fakta (Ogunlowo et al., 2024). Dalam konteks ini, mahasiswa perlu memandang Biologi sebagai pendekatan ilmiah untuk memahami kehidupan, yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan reflektif. Hal ini ditegaskan pula dalam kerangka PM yang menekankan pengembangan pemahaman konseptual dan prosedural yang saling terhubung serta aplikatif dalam konteks baru.
Literasi teknologi, dalam konteks Pendidikan Biologi, mencakup kemampuan untuk menggunakan perangkat digital dan TIK secara strategis dalam proses pembelajaran maupun riset. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/Information and Communication Technology/ICT) telah terbukti meningkatkan minat dan efektivitas belajar Biologi di berbagai negara berkembang (Ogunlowo et al., 2024). Penelitian oleh Ogunlowo et al. (2024) menyatakan bahwa integrasi teknologi seperti video, mikroskop digital, dan simulasi interaktif tidak hanya menjadikan pembelajaran lebih menarik, tetapi juga memperkuat penguasaan konsep dan keterampilan proses sains. Hal serupa juga diamini dalam kurikulum Biologi Unesa yang mendorong pemanfaatan media berbasis TIK untuk menghasilkan pembelajaran kontekstual dan inovatif.
Literasi data menjadi pilar penting ketiga. Mahasiswa perlu mampu membaca, menganalisis, dan menafsirkan data secara etis serta menyampaikannya kembali dalam bentuk narasi ilmiah yang komunikatif. Hal ini sejalan dengan prinsip Open Science yang mendorong keterbukaan data ilmiah untuk dimanfaatkan kembali dalam kegiatan belajar dan riset. Seperti dijelaskan oleh Fecher & Friesike (2014), keterbukaan data (data sharing) meningkatkan kolaborasi dan mempercepat kemajuan ilmu. Penelitian oleh Piwowar & Vision (2013) bahkan membuktikan bahwa publikasi dengan data terbuka lebih banyak disitasi, menunjukkan pengaruh ilmiah yang lebih tinggi dibandingkan publikasi tertutup.
Literasi data juga mendorong keberanian epistemologis dalam menganalisis dan menginterpretasi ulang data yang telah tersedia. Dalam konteks pembelajaran Biologi, ini berarti mahasiswa diajak tidak hanya mengumpulkan data baru, tetapi juga mengembangkan pertanyaan baru dari dataset lama, sebuah praktik yang menuntut keterampilan analitis dan etika ilmiah. Kurikulum Unesa mendorong pendekatan ini melalui penguatan penguasaan metode ilmiah serta kemampuan menggunakan software statistik dan biokomputasi untuk pengolahan data Biologi. Dengan mengintegrasikan literasi sains, teknologi, dan data secara holistik, mahasiswa Pendidikan Biologi dibekali tidak hanya dengan pengetahuan konten, tetapi juga kapasitas untuk mengakses, mengevaluasi, dan menciptakan pengetahuan baru secara bertanggung jawab dan reflektif. Literasi ini tidak hanya krusial untuk kesiapan karier akademik dan profesional mahasiswa, tetapi juga sebagai fondasi untuk berkontribusi pada pembangunan masyarakat berbasis pengetahuan yang adil dan berkelanjutan