Curriculum
Di era digital dan Society 5.0, pendidikan sains tidak boleh lagi berfokus semata-mata pada transfer informasi satu arah. Pendidikan perlu dipandang sebagai proses kontekstual yang menggabungkan pengetahuan sains, teknologi, dan nilai sosial. World Economic Forum menekankan bahwa pendidikan tidak lagi dapat sekadar mentransfer pengetahuan, namun kurikulum baru harus mampu mengintegrasikan kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, dan literasi sains dan teknologi sebagai kompetensi utama siswa. Hal ini sejalan dengan kurikulum Biologi Unesa 2024 yang menegaskan pentingnya adopsi tuntutan masa depan agar lulusan tidak tertinggal dan mampu beradaptasi dengan cepat pada perkembangan sains dan teknologi. Pendidikan Biologi harus membekali mahasiswa tidak hanya dengan “bodies of information”, tetapi dengan kemampuan berpikir kritis terhadap sains dan menyikapi perkembangan teknologi secara adaptif. Dengan cara ini, ilmu pengetahuan diposisikan sebagai kunci memberdayakan generasi muda dalam memecahkan tantangan global.
Pendekatan pembelajaran yang diilhami oleh filsafat John Dewey menegaskan perlunya pengalaman belajar yang autentik. Dewey (1938) berargumen bahwa pengalaman pendidikan yang bermakna melibatkan kesinambungan dan interaksi antara pelajar dan apa yang dipelajari di atas segalanya. Artinya, mahasiswa perlu berperan aktif dalam proses eksplorasi, bukan sekadar menerima fakta statis. Dewey bahkan menyamakan proses belajar sebagai metode ilmiah, dimana siswa dapat mempelajari dunia, mengakumulasi pengetahuan tentang makna dan nilai, yang menjadi data bagi studi kritis dan hidup yang cerdas. Prinsip ini menggarisbawahi perlunya pembelajaran Biologi yang kontekstual dan interaktif, meliputi topik-topik biologis diajarkan melalui eksperimen, observasi lapangan, dan refleksi siswa, sehingga ilmu bukan lagi ajaran tekstual melainkan pengalaman yang terjalin dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa.
Konsep Pembelajaran Mendalam (deep learning) yang dikembangkan oleh Fullan dan kolega menegaskan peran guru dan siswa sebagai partner pembelajaran yang dinamis. Dalam paradigma ini, guru menjadi “aktivator” yang merancang pengalaman belajar berbasis pemecahan masalah nyata untuk membangun kompetensi global. Pembelajaran Biologi difokuskan pada proyek dan studi kasus autentik, seperti: analisis isu lingkungan atau inovasi bioteknologi, sehingga mahasiswa belajar tidak hanya mengenal konsep, tetapi menerapkan dan mengeksplorasi sains secara kreatif. Hasilnya, siswa relatif lebih siap untuk menjadi peserta yang aktif dan lebih terlibat dalam masa depan mereka sendiri. Dengan pembelajaran semacam ini, pelajaran Biologi menjadi proses interdisipliner yang mengaitkan sains dengan masalah nyata dan teknologi terkini.
Pendekatan kontekstual juga dapat diilhami oleh narasi historis tentang ilmu pengetahuan lokal. Sebagai contoh: penjelajahan Alfred Russel Wallace di Nusantara bersama asisten Malayanya, yaitu Ali Wallace, pada abad ke-19 menunjukkan bagaimana pemahaman keanekaragaman hayati dibentuk dari pengalaman lapangan. Ali Wallace, seorang putra Melayu yang mengumpulkan spesimen biologi untuk Wallace, berperan sebagai jembatan antara pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal. Kisah ini menginspirasi mahasiswa bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya datang dari timur atau barat, tetapi muncul dari interaksi orang lokal dengan alamnya. Pembelajaran Biologi di era kini dapat mengambil semangat tersebut dengan menekankan penelitian kontekstual, seperti mahasiswa diajak menghargai pengetahuan tradisional (misalnya obat-obatan tradisional, konservasi lokal) dan mengkontekstualkannya dalam konsep sains modern.
Selaras dengan tuntutan keterbukaan zaman digital, paradigma Open Science dan data reuse harus menjadi bagian cara pandang baru mahasiswa. Fecher & Friesike (2013) menjelaskan bahwa Open Science adalah payung berbagai gagasan tentang akses pengetahuan, mulai dari infrastruktur teknologi hingga kolaborasi publik, yang menekankan akses terbuka terhadap data dan publikasi. Konsep FAIR (Findable, Accessible, Interoperable, Reusable) yang diperkenalkan Wilkinson et al. (2016) membantu memastikan data riset mudah dicari, diakses, dan digunakan kembali. Pengalaman saling berbagi data dalam komunitas ilmiah memberi konteks nyata kepada mahasiswa bahwa manfaat berbagi data baru tercapai bila orang lain benar-benar menggunakan data tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa makalah atau jurnal penelitian yang datanya tersedia secara publik (publicly available) cenderung mendapat sitasi yang lebih tinggi, dan banyak peneliti mengakui bahwa tambahan sitasi merupakan motivasi utama untuk membagikan data mereka. Dengan demikian, mahasiswa belajar bahwa terbukanya ilmu (melalui data dan publikasi terbuka) berpotensi memperkuat kemajuan sains dan mengangkat reputasi peneliti. Perspektif ini mengubah sains dari komoditas tertutup menjadi ekosistem kolaboratif yang transparan dan saling menguntungkan.
Pemanfaatan teknologi informasi (TI) dalam pembelajaran Biologi juga krusial untuk meningkatkan relevansi dan keseruan belajar. Studi di Nigeria menunjukkan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT/Information and Communication Technology), seperti presentasi multimedia, simulasi, video pembelajaran, secara signifikan menaikkan minat belajar siswa Biologi. Begitu pula survei guru di Bangladesh melaporkan bahwa lebih dari separuh responden melihat siswa belajar lebih mudah dan lebih bersemangat ketika TIK digunakan dalam kelas. Pendekatan berbasis teknologi ini sejalan dengan prinsip pembelajaran menggembirakan (joyful) dari Pembelajaran Mendalam, karena mahasiswa terlibat secara emosional dan intelektual, bukan hanya menghafal teori. TIK memungkinkan penanaman wonder (keingintahuan) dan kolaborasi digital, sehingga mahasiswa melihat sains sebagai proses yang dinamis dan penuh kreativitas.
Secara keseluruhan, transformasi cara pandang mahasiswa terhadap sains dan teknologi berarti menggeser paradigma dari penerimaan pasif fakta menjadi keterlibatan aktif dalam sains terbuka, kontekstual, dan bermakna. Landasan filosofis Dewey (pengalaman belajar menyeluruh) dan prinsip Pembelajaran Mendalam (berkesadaran/mindful, bermakna/meaningful, menggembirakan/joyful) menjadi penopang ideologis perubahan ini. Dengan memberi mahasiswa peran sentral sebagai penemu dan kolaborator dalam proses sains (bukan sekadar penerima materi), pendidikan Biologi membangun karakter kritis, kreatif, dan adaptif yang dibutuhkan di abad ke-21.
Pasquetto, I. V., Randles, B. M., & Borgman, C. L. (2017). On the reuse of scientific data. Data Science Journal, 16, Article 8.
Wilkinson, M. D., Dumontier, M., Aalbersberg, I. J., et al. (2016). The FAIR Guiding Principles for scientific data management and stewardship. Scientific Data, 3, 160018.
Piwowar, H. A., & Vision, T. J. (2013). Data reuse and the open data citation advantage. PeerJ, 1, e175.
Tenopir, C., Allard, S., Douglass, K., et al. (2011). Data sharing by scientists: practices and perceptions. PLoS ONE, 6(6), e21101.
Longo, D. L., & Drazen, J. M. (2016). Data sharing. The New England Journal of Medicine, 374, 276–277.
Gual Soler, M., & Dadlani, K. (2020, Agustus 13). Resetting the way we teach science is vital for all our futures. World Economic Forum.
Dewey, J. (1938). Experience and Education. Macmillan.
Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. (2018). Deep Learning: Engage the World, Change the World. Corwin Press.
Universitas Negeri Surabaya. (2024). Kurikulum Merdeka Belajar: Program Studi S1 Pendidikan Biologi.
Gunson, N., & Godschalk, J. (2014). Manuscript XXVIII: An early ethnography of the Geelvink Bay people, West New Guinea. Journal of Pacific History, 49(1), 95–121.
Farhana, Z., & Chowdhury, S. A. (2019). Use of ICT by biology teachers in secondary schools: Bangladesh perspective. Journal of Culture, Society and Development, 22, 46–56.
Ogunlowo, S. O., Ozbey, G., & Ogunlowo, D. T. (2024). Impacts of ICT as tools in teaching biology in senior secondary schools. International Journal of Academic Studies in Science and Education, 2(1), 42–52.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Naskah akademik pembelajaran mendalam: Menuju pendidikan bermutu untuk semua (Februari 2025).