Curriculum
Pemilihan media pembelajaran yang efektif merupakan tahap kunci karena kualitas media memengaruhi cara mahasiswa memproses informasi, membangun konsep, dan mengaitkannya dengan konteks Biologi yang nyata (Bates, 2015). Dalam pembelajaran digital, media tidak sekadar alat bantu presentasi, melainkan bagian dari desain pengalaman belajar yang menentukan pola interaksi, urutan aktivitas, serta jenis representasi pengetahuan seperti teks, visual, audio, dan simulasi (Bates, 2015). Karena itu, prinsip pemilihan media perlu dirancang secara sistematis agar media yang dipilih benar-benar mendukung pembelajaran mendalam, bukan hanya menarik perhatian secara sesaat (Czerkawski, 2014).
Salah satu titik awal pemilihan media adalah keselarasan dengan tujuan dan capaian pembelajaran, karena media efektif adalah media yang membantu mahasiswa mencapai hasil belajar yang ditargetkan, bukan media yang sekadar “paling canggih” (Bates, 2015). Pada pembelajaran Biologi, tujuan tersebut sering mencakup pemahaman proses, penalaran ilmiah, kemampuan menganalisis data, serta penerapan konsep pada kasus nyata, sehingga media perlu dipilih untuk mendukung aktivitas-aktivitas tersebut secara langsung (OECD, 2016). Kerangka pembelajaran digital yang baik juga menekankan bahwa pemilihan teknologi harus mempertimbangkan strategi pedagogis dan konteks institusional, bukan hanya preferensi personal pengajar (Bates, 2015).
Model praktis yang banyak digunakan untuk memilih media adalah SECTIONS dari Tony Bates, yang dirancang sebagai kerangka pengambilan keputusan untuk pemilihan media dan teknologi pembelajaran (Bates, 2015). SECTIONS menekankan delapan dimensi yang perlu dipertimbangkan, yaitu Students, Ease of use, Costs, Teaching functions, Interaction, Organizational issues, Networking, serta Security and privacy (Bates, 2015).
Dimensi Students (“S”) menuntut dosen memahami demografi mahasiswa, akses perangkat dan internet, serta perbedaan cara belajar mahasiswa agar media yang dipilih tidak menciptakan ketimpangan akses belajar (Bates, n.d.). Dalam konteks Biologi digital, pertimbangan Students juga berarti memastikan media mampu melayani variasi kesiapan literasi digital mahasiswa dan mendukung pembelajaran mandiri yang terarah (Bates, n.d.). Dimensi Ease of use menegaskan bahwa media yang terlalu sulit digunakan berpotensi mengalihkan perhatian mahasiswa dari belajar konsep Biologi ke persoalan teknis, sehingga menurunkan efektivitas pembelajaran (Bates, 2015).
Dimensi Costs mengingatkan bahwa biaya tidak hanya terkait pembelian lisensi, tetapi juga mencakup pelatihan, pemeliharaan, serta waktu dosen dan mahasiswa untuk mempelajari sistem baru (Bates, 2015). Dimensi Teaching functions menuntun pemilihan media berdasarkan fungsi pedagogis yang dibutuhkan, misalnya demonstrasi proses melalui animasi, latihan konsep melalui kuis adaptif, investigasi melalui simulasi atau virtual lab, atau produksi pengetahuan melalui proyek multimedia (Bates, 2015).
Dimensi Interaction menekankan bahwa media efektif seharusnya memungkinkan interaksi bermakna antara mahasiswa dengan konten, mahasiswa dengan mahasiswa, dan mahasiswa dengan dosen, karena interaksi merupakan prasyarat penting bagi keterlibatan kognitif yang lebih dalam (Czerkawski, 2014). Dimensi Organizational issues menuntut kesesuaian media dengan kebijakan, dukungan teknis, kesiapan infrastruktur, dan budaya institusi agar inovasi media berkelanjutan dan tidak berhenti pada uji coba sesaat (Bates, 2015).
Dimensi Networking menekankan nilai jejaring dan konektivitas, misalnya kemampuan media mendukung kolaborasi lintas kelas, berbagi produk belajar, dan keterhubungan dengan komunitas atau sumber sains terbuka (OECD, 2016). Dimensi Security and privacy mengingatkan bahwa pemilihan media digital harus mempertimbangkan keamanan data, privasi pengguna, dan etika pengelolaan informasi, terutama ketika media meminta akun, merekam jejak aktivitas, atau memerlukan unggahan tugas mahasiswa (Bates, 2015).
Selain SECTIONS yang bersifat makro pada level konteks dan implementasi, pemilihan media efektif juga perlu didukung prinsip mikro yang terkait dengan cara manusia belajar dari multimedia (Mayer, 2002). Mayer menjelaskan bahwa riset multimedia learning bertujuan membangun teori berbasis bukti tentang bagaimana orang belajar dari kata dan gambar, sehingga media perlu dipilih dan dirancang sesuai cara kerja kognisi manusia (Mayer, 2002). Prinsip multimedia learning menekankan bahwa media yang baik bukan yang memiliki elemen paling banyak, melainkan yang membantu pemahaman dengan mengelola beban kognitif secara tepat (Mayer, 2002).
Coherence principle menyatakan bahwa pembelajaran lebih baik ketika kata, gambar, atau suara yang tidak relevan dikeluarkan, sehingga pemilihan media sebaiknya menghindari dekorasi berlebihan seperti musik latar yang tidak diperlukan pada materi Biologi (Mayer, 2002). Signaling principle menekankan pentingnya isyarat yang menonjolkan struktur materi, sehingga media yang dipilih idealnya menyediakan penanda organisasi seperti judul, penyorotan, dan penunjuk visual agar mahasiswa menangkap alur konsep secara jelas (University of Hartford, n.d.). Redundancy principle menyarankan agar tidak menampilkan teks panjang yang sama persis dengan narasi suara ketika visual utama sudah berfungsi, sehingga pemilihan media video Biologi perlu memperhatikan keseimbangan teks layar dan audio (Mayer, 2002). Spatial contiguity dan temporal contiguity principles menekankan bahwa kata dan gambar yang saling terkait perlu didekatkan dan disajikan selaras waktunya, sehingga media yang dipilih untuk proses Biologi, seperti mekanisme enzim, sebaiknya menempatkan label atau penjelasan dekat dengan bagian gambar yang dijelaskan (Mayer, 2002). Dengan demikian, prinsip Mayer membantu dosen menilai apakah suatu media “ramah belajar” dan mendukung pemahaman, bukan sekadar “ramah tampilan” (Mayer, 2002).
Prinsip pemilihan media efektif juga perlu memasukkan pertimbangan keterbukaan dan legalitas akses, terutama ketika dosen ingin mengembangkan sumber belajar yang dapat digunakan ulang oleh mahasiswa (UNESCO, 2019). Rekomendasi UNESCO tentang OER menekankan pentingnya sumber belajar berlisensi terbuka (open access) untuk mendukung akses yang lebih luas, peningkatan kualitas materi, dan kolaborasi dalam pendidikan (UNESCO, 2019). Dalam konteks pemilihan media, prinsip ini berarti dosen dapat memprioritaskan platform, modul, atau multimedia yang dapat diunduh dan diadaptasi secara legal, sehingga desain media Biologi tidak bergantung pada sumber berbayar atau sumber yang lisensinya tidak jelas (UNESCO, 2019).
Jika dikaitkan dengan agenda inovasi pendidikan, OECD menekankan bahwa kebijakan dan praktik yang melibatkan pemangku kepentingan diperlukan untuk mendorong inovasi pendidikan, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan keterampilan digital (OECD, 2016). Implikasinya pada pemilihan media adalah dosen perlu memilih media yang tidak hanya “baru”, tetapi juga memperkuat praktik belajar yang lebih baik, lebih terukur, dan relevan dengan kebutuhan kompetensi abad ke-21 (OECD, 2016).
Agar prinsip-prinsip ini operasional bagi mahasiswa dan calon guru Biologi, kriteria pemilihan media efektif dapat dirumuskan sebagai daftar periksa saat menganalisis media pembelajaran digital (Bates, 2015). Daftar periksa ini membantu mahasiswa menilai keselarasan tujuan, akses dan karakteristik mahasiswa, fungsi pedagogis, kemudahan pakai, beban kognitif, legalitas OER, serta aspek keamanan dan privasi (Bates, 2015). Dengan daftar periksa tersebut, mahasiswa dapat melakukan evaluasi media secara lebih sistematis, kritis, dan berbasis kerangka teoretis yang jelas (Mayer, 2002).
Tabel 5.1. Kriteria pemilihan media dan pertanyaan kunci untuk biologi digital
| Kriteria pemilihan media | Pertanyaan kunci untuk Biologi digital |
| Keselarasan tujuan | Apakah media membantu memahami konsep atau proses Biologi dan mencapai CPMK? (Bates, 2015). |
| Students (akses & karakteristik) | Apakah media dapat diakses mahasiswa (perangkat, kuota, bandwidth) dan sesuai tingkat literasi digital? (Bates, n.d.). |
| Fungsi pedagogis (teaching functions) | Apakah media tepat untuk visualisasi proses, simulasi, latihan, investigasi data, atau proyek? (Bates, 2015). |
| Kemudahan pakai & dukungan institusi | Seberapa mudah media dipakai, tersedia dukungan teknis, dan sesuai kebijakan kampus? (Bates, 2015). |
| Beban kognitif (prinsip Mayer) | Apakah media menghindari elemen tidak relevan dan memberi isyarat struktur konsep? (Mayer, 2002). |
| OER & legalitas | Apakah media atau sumber dapat digunakan ulang dan dibagikan secara legal dengan lisensi terbuka? (UNESCO, 2019). |
| Keamanan & privasi | Apakah ada risiko data pribadi, rekam jejak aktivitas, atau ketergantungan pada platform tertentu? (Bates, 2015). |
Pada akhirnya, pemilihan media efektif merupakan keputusan pedagogis yang menyeimbangkan kebutuhan mahasiswa, fungsi pembelajaran, konteks institusi, kualitas desain multimedia, keterbukaan akses, serta keamanan penggunaan (Bates, 2015). Prinsip-prinsip ini menjadi jembatan menuju subbab berikutnya tentang desain media digital Biologi, karena desain yang baik berawal dari pilihan media yang tepat dan alasan pedagogis yang kuat (Mayer, 2002).