Curriculum

Gambar 1 dan gambar 2 memperlihatkan berbagai tipe sel penyusun pulau Langerhans (pancreatic islet) di pankreas, yang bersama-sama berperan penting dalam menjaga homeostasis glukosa. Sel alfa (α) berfungsi menghasilkan hormon glukagon, yang meningkatkan kadar glukosa darah dengan merangsang pelepasan glukosa dari hati. Sebaliknya, sel beta (β), sebagai tipe sel yang paling melimpah dan tersebar luas di dalam pulau Langerhans, bertanggung jawab dalam produksi dan sekresi insulin, hormon utama yang menurunkan kadar glukosa darah dengan mendorong pengambilan glukosa oleh jaringan perifer.
Selain kedua tipe sel utama tersebut, pulau Langerhans juga mengandung sel-sel regulator lain yang memastikan keseimbangan hormonal tetap terjaga. Sel delta (δ) menghasilkan somatostatin, hormon pengatur yang berfungsi menekan sekresi insulin dan glukagon secara lokal agar respons metabolik tidak berlebihan. Sel gamma (γ) atau sel PP (pancreatic polypeptide cells), meskipun jumlahnya relatif sedikit, berperan dalam produksi pancreatic polypeptide yang terlibat dalam regulasi fungsi eksokrin pankreas dan nafsu makan. Sementara itu, sel epsilon (ε), tipe sel yang paling jarang, menghasilkan ghrelin, hormon yang berperan dalam regulasi rasa lapar dan keseimbangan energi. Komposisi dan interaksi antar berbagai tipe sel ini memungkinkan pulau Langerhans berfungsi sebagai unit endokrin terintegrasi, yang secara dinamis menyesuaikan sekresi hormon sesuai kebutuhan metabolik tubuh.

Dalam kondisi normal, kerja terkoordinasi pulau Langerhans ini terhubung erat dengan jaringan perifer, seperti otot, hati, dan jaringan adiposa, melalui hormon insulin dan jalur sinyal intraseluler yang mengatur pengambilan, penyimpanan, dan pemanfaatan energi. Sistem ini membentuk homeostasis metabolik, di mana kadar glukosa darah dipertahankan dalam rentang sempit meskipun asupan nutrisi dan kebutuhan energi terus berubah. Sel mampu beradaptasi secara fleksibel, baik dengan meningkatkan pengambilan glukosa, menyimpannya sebagai cadangan energi, maupun menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Pada diabetes melitus tipe 2, keseimbangan ini mulai runtuh secara bertahap. Penyakit ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui fase panjang resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel-sel target insulin masih memiliki hormon insulin, tetapi kehilangan sensitivitas terhadap sinyalnya. Akibatnya, glukosa tetap berada di dalam sirkulasi darah meskipun insulin tersedia dalam jumlah cukup, atau bahkan berlebih. Inilah titik awal dari disregulasi metabolik kronis.
Pada tingkat seluler, resistensi insulin mencerminkan kegagalan jalur sinyal metabolik dalam merespons kondisi nutrisi secara tepat. Jalur-jalur yang seharusnya mengatur pengambilan glukosa dan penyimpanan energi menjadi tumpul, sementara jalur yang mendorong sintesis lipid dan stres metabolik tetap aktif. Kondisi ini diperparah oleh aktivasi kronis mTORC1, kelebihan nutrisi yang berkepanjangan, serta rendahnya aktivitas jalur sensor energi seperti AMPK. Dengan kata lain, sel berada dalam keadaan kelebihan energi, tetapi tidak mampu memanfaatkannya secara efisien.
Dampak dari disregulasi metabolik ini tidak terbatas pada satu jaringan. Hati meningkatkan produksi glukosa melalui glukoneogenesis, otot menurunkan pengambilan glukosa, dan jaringan adiposa melepaskan asam lemak bebas serta sitokin proinflamasi. Akumulasi sinyal inflamasi ini menciptakan kondisi peradangan kronis tingkat rendah, yang selanjutnya semakin memperburuk resistensi insulin. Oleh karena itu, diabetes melitus tipe 2 kini dipahami bukan sekadar gangguan kadar gula darah, melainkan sebagai penyakit inflamasi–metabolik sistemik.
Konsekuensi jangka panjang dari kondisi ini sangat luas. Hiperglikemia kronis dan stres metabolik yang persisten memicu kerusakan pada pembuluh darah, saraf, ginjal, retina, dan jantung. Dengan demikian, berbagai komplikasi diabetes, seperti penyakit kardiovaskular, nefropati, neuropati, dan retinopati, merupakan manifestasi dari satu gangguan metabolik inti yang berlangsung lama pada tingkat sel dan jaringan, lalu menjalar menjadi penyakit pada berbagai organ.
Daftar Referensi: